Myspace Layouts
Tuesday, February 10, 2009
Sunday, February 1, 2009
..Surat Cendil Untuk Bapak..
“Pak, aku ga habis pikir, kok bisa ya, orang sudah haji dua kali, jamaah dan ta’limnya rajin, tapi sampai hati memperlakukan anak dan isterinya sangat tidak santun”, pak, Hasib, guru Matematika membuka obrolan selepas jam terakhir sekolah.
“ Jangan gossip ah, ga santun juga”, kata saya menimpali seadanya. ” Paling, Bapak lihat di sinetron, kan?”.
” Bukan Pak, ini realitas. Bukan hayalan atau gosip kacangan. Saya keheranan melihat kenyataan demikian. Saya kurang paham soal agama, dan kenyataan demikian menimbulkan teka-teki buat saya. Mengapa orang yang kelihatan soleh itu, bisa berbuat begitu”.
Sebenarnya sudah hampir habis energi saya untuk sekedar menimpali pembicaraan rekan kerja saya yang satu ini. Aktivitas di kelas saja sudah hampir menguras separuh tenaga fisik dan mental saya. Hampir tidak ada gairah lagi untuk membicarakan masalah yang agak berat. Apalagi menyangkut cela dan aib orang lain. Untunglah, ada teman guru yang nimbrung dan banyak cakap pula. Dan saya, menghilang.
Tapi rupanya, obrolan tempo hari itu malah mendapat tempat dalam benak saya. Masalah yang dilontarkan Pak Hasib tidak ikut hilang sebagaimana saya sengaja menghilang ketika ia memancing wacana. Batin saya malah lebih tajam mengorek kenyataan hidup dan mendapat dilema yang lebih rumit tentang hal itu.
Saya teringat sebuah cerita realita imajiner yang menampilkan gambaran utuh teka-teki Pak Hasib dan dilema yang saya temukan. Cerita tentang ”Surat Cendil Pada Bapaknya”.
***
Tersebutlah nama Dulkamid, seorang yang telah berpuluh kali naik haji. Sawah ladangnya lebar, usahanya maju, ternak tak terkira banyaknya, rumahnya besar dan bagus. Ibadahnya rajin, serajin ia mengurus semua harta kekayaannya. Pergaulannya luas, setara dengan luas tanah miliknya yang tersebar di mana-mana. Ilmu agamanya mumpuni tempat banyak orang bertanya dan mengaji. Orang-orang yang mengaji dan meminta nasehatnya menyebutnya dengan Kyai Dulkamid. Penghormatan orang kepadanya lengkap; kaya harta dan ilmunya.
Istri satu-satunya yang bernama Mutingah telah lama sakit. Kesehariannya hanya tergolek di atas dipan tak berdaya seolah menunggu nasib ajal menjemput.
Anak-anak Haji Dulkamid empat orang. Semuanya perempuan masih lajang. Badannya kurus-kurus, matanya cekung, pakaiannya pun lusuh-lusuh. Untuk perempuan lajang layaknya gadisanak orang kaya, penampilan mereka kurang menarik.
Satu hari anak bungsu Haji Dulkamid minggat dari rumah. Saudara-saudaranya telah mencari kemana-mana, tapi sia-sia. Berharap kabar dari para tetangga, juga tak ada. Anak itu pergi tak ketahuan rimbanya.
Suatu pagi di hari kesepuluh keminggatan anak bungsunya, anak sulung Haji Dulkamid menyodorkan secarik kertas kumal. Haji Dulkamid kelihatan kurang senang diganggu istirahatnya. Dihentikan ayunan kursi malasnya dan dicopot cerutu dari bibirnya.
” Apa ini?”, katanya menyelidik.
” Baca saja, Pak. Ada di bawah bantal tempat tidur Cendil”, sahut anak sulungnya takut-takut. Haji Dulkamid membuka lipatan kertas lusuh itu sambil meracau tak karuan. Tapi mendadak Haji Dulkamid terdiam. Mukanya merah padam. Nafasnya naik turun cepat. Keringatnya mengucur deras. Tangannya gemetar membaca sepuluh baris isi kertas lusuh dari Cendil anak bungsunya:
Cendil
***Islam satu substansi tata nilai, iman sebuah substansi, ihsan juga sebuah substansi, dan seorang muslim adalah substansi yang lain. Allah menghendaki, keterpautan yang utuh antara Iman, Islam dan Ihsan. Ketiganya menjadi pilar yang harus diamalkan sebagai jalan hidup bagi setiap orang yang berikrar sebagai muslim. Semestinya memang, antara substani tata nilai dangan kepribadian adalah menyatu. Seperti menyatunya Iman, Islam dan Ihsan pada diri Rasulullah SAW, para sahabat ra. dan orang-orang sesudahnya yang taat kepada-Nya.
Pada titik tertentu, begitu banyak orang menyalahkan Islam sebagai agama yang gagal menjadikan ummatnya sebagai manusia arif. Maraknya korupsi, kekerasan, kawin-cerai dan beberapa perilaku menyimpang, dijadikan sebagai amunisi untuk memukul Islam.
adahal masalahnya bukan pada Islamnya, tetapi lebih kepada substansi pribadi muslim yang enggan menjadikan Islam itu sebagai jalan hidup yang kaaffah.
Memang terasa ganjil, apabila seorang yang khusyu ketika di masjid, tetapi menjadi penipu ketika di pasar. Berulang kali ke tanah suci, tetapi mendekam di penjara karena kasus korupsi. Atau seperti cerita seorang ”wanita nakal” setengah baya yang berbisik di sisi laki-laki tamunya setelah mereka kelelahan menghabiskan separuh malam. Keringat masih hangat mengalir dari kedua tubuh mereka.
” Om, apakah Om sudah selesai memakai jasa saya?. Saya minta izin”.
”Mau kemana?”, sahut tamunya itu malas-malasan sambil tangan kanannya masih mengapit tubuh wanita itu.
”Saya mau mandi junub dan tahajjud. Ini waktu sepertiga malam. Mudah-mudahan do’a saya didengar”.
Subhanallah. Seharusnya seperti dulu; seperti Rasulullah, para sahabat dan tabi’in. Di mana Iman, Islam dan Ihsan mendarah daging dalam hati. Menjadi teks saat berbicara dan menjadi energi saat berperilaku. Semoga.
Thursday, January 8, 2009
Ketupat Sayur Padang
Kita putuskan untuk masuk tol jagorawi lewat pintu tol cibinong. Kalau kita ke pintul tol sentul, dari pertigaan pemda belok kanan. Kalau ke pintu tol cibinong, dari pertigaan pemda kita harus belok kiri. Sedangkan mbak ade, jalur angkotnya dari arah sentul. Agar bisa ketemu dengan mbak ade, maka mbak ade harus meneruskan perjalanannya dari meeting point biasanya di showroom mitsubishi ke meeting point alternatif. Dan meeting point alternatifnya ada di pertigaan pemda tadi, tepatnya di tukang ketupat sayur padang mangkal. Perjalanan mbak ade ke meeting point ini cukup memakan waktu. Apalagi kalau harus ditempuh dengan naik angkot yang tiap jalan 100 meter berhenti mencari penumpang. Akhirnya aku, mas agus, dan mbak maya memutuskan untuk mencicipi ketupat sayur tadi sebagai menu sarapan pagi ini samil menunggu mbak ade. Cuaca pagi yang cerah menjadikan suasana sarapan makin hangat. Tentunya dengan ditemani obrolan-obrolan ringan dengan moderator seorang politikus amatiran, yaitu bapak agus sarjana sospol ugm.
Ceritanya aku sedang membuktikan salah satu produk diet dagangan mbak maya. Productnya semacam bubuk nutrisi yang harus diminum sebelum makan. Pagi ini aku sudah berencana untuk mencampur nutrisi itu dengan jus yang mau aku beli di kantin kantor, baru setelahnya mau sarapan. Rencana itu harus dibatalkan ketika aku mencium aroma ketupat sayur yang sudah lama aku gak makan. Akhirnya, mbak maya sebagai yang ikut bertanggung jawab dalam program dietku (yang sebenernya lebih bertanggungjawab kalau program diet ala produk jualannya mbak maya ini gagal) jadi senewen. Begini kurang lebih cuplikannya :
"Kamu itu ya Fon, itu tuh harus diminum sebelum makan. Kamu tuh harusnya dari rumah sudah minum itu fon. Aku aja selalu minum itu sebelum aku berangkat. Dicampur susu kedelainya fon. Dan bla bla bla bla bla bla"
Terusannya aku sudah lupa. Dan seperti biasanya, aku mencoba membela diri dengan menjelaskan alasanku kenapa belum aku minum. Jawaban Balasan dari pembelaanku kurang lebih begini :
"Makanya.... minumnya itu dirumah, sebelum kamu berangkat. Biar kalau ada sarapan mendadak begini kan enak. Bla bla bla bla"
Kali ini aku sudah tidak bisa lagi melakukan pembelaan diri. Sambil menunggu si bapak menyajikan ketupat sayur special pake telor rebus, aku comot bakwan goreng. Eh, dikomentarin lagi. Tapi kali ini bukan mbak maya yang komentar. Mas agus, sang moderator yang mencoba memberi sedikit komentar :
"Kamu pesen ketupat sayurnya emang separoh fon, Tapi kalau kamu makan gorengannya segede itu ya sama aja gondrong. Itu kan kolesterolnya banyak banged. Bla bla bla bla"
Nah lo, kena lagi deh. Belum sempat mikir kira-kira pembelaan apalagi yang mau aku keluarin. Eh, ditimpalin lagi sama mbak maya.
"Tuh. Dengerin tuh. Gorengan itu bla bla bla bla"
Kali ini aku merasa sangat terharu. Betapa aku sangat beruntung diperhatikan oleh teman-temanku. Bahkan ketika aku diet pun, mereka selalu menjadi penasehatku. Terimakasih teman-temanku yang baik. Hiks, aku terharu.
Tak berapa lama kemudian, si bapak menyodorkan ketupat sayur yang kami pesan. Punyaku dan mbak maya porsinya separoh. Punya mas agus porsinya utuh. Ditengah asyiknya makan, mbak maya tiba-tiba naruh kuning telor punya dia ke piringku.
"nih Fon, kolesterol. Buat kamu aja"
Loh loh maksudnya apa? tadi katanya suruh ngurangin makan makanan kolesterol. Sekarang kok malah dikasih?? Hehehhehe mbak maya putus asa kali yah. Jangan putus asa mbak May, ingetin aku selalu untuk minum produkmu. Ini baru awal permulaan mbak May. Semangat!!!! sebenarnya ini yang sedang diet siapa yah?
Wednesday, January 7, 2009
James Bond
Seperti dulu-dulu. Meeting point 1 adalah di warung padang pemda cibinong. Disini jemput mbak maya dulu. Meeting point ke-2 di showroom mitsubishi sentul, jemput mbak Ade. Meeting point ke-3 di pom bensin sebelah perumahan elit mutiara sentul. Sayangnya baru aja keluar gerbang perumahan De karadenan Citi, eh sudah ada antrian mobil panjang. Macet alias tidak bergerak. Dengan sigap, mas agus langsung turun dan tanya sama pak satpam penjaga gerbang. Satpam itu menjelaskan bahwa di tikungan depan pasar ada truk yang ban-nya keselip. Posisinya melintang, pas menghalangi jalan raya dua arah. Bapak satpam dengan bijak menyarankan mas agus untuk jalan lewat dalam yang tembusnya nanti di gerbang perumahan satu lagi. Oke, akhirnya kita putuskan untuk putar balik mau lewat dalam saja. Pas mau puter balik, lah kok tiba-tiba antrian jadi lancar kembali. Kitapun tergoda untuk ikut antrian dan gak jadi puter balik. Perkiraan mungkin accident-nya sudah diatasi. masuklah kita ke antrian. Belum juga jalan 100 meter, eh mobil terhenti. Antrian gak jalan lagi. Stuck. Yaaaaa... akhirnya kita menyadari kalau barusan adalah jebakan batman. Ternyata accident nya belum selesai, dan polisi terpaksa memberlakukan sistem buka tutup untuk dua jalaur berlawanan. Kecewa. Kenapa tadi gak dengerin nasehat pak satpam yah.
Agar anggota yang lain tidak penasaran menunggu, aku sms semuanya. Bahwa kita lagi terjebak macet. Mohon bersabar. tak berapa lama kemudian, handphone mas agus berdering. Deringnya ada tambahan tone didepannya, kurang lebih bunyinya begini "terererengg...", baru kemudian diikuti ringtone biasanya. Maksud ringtone tambahan itu adalah, bahwa panggilan itu bukan panggilan biasa, melainkan panggilan video call. Dan ternyata dari mas igo. Ternyata mas igo sedang melakukan inspeksi mendadak. Apakah benar kita sedang terjebak macet atau kita lagi sarapan. Hehehehehhee. Dari layar terlihat, mas igo sedang menyorotkan kamera HP nya ke jejeran truk besar yang kita tahu truk itu selalu parkir di pom bensin tempat biasanya dia nunggu. Setelah inspeksi selesai, dan hasilnya memang kita sedang terjebak macet bukan sedang sarapan, maka dia memutuskan untuk balik ke rumahnya, sarapan dulu. Sambil menunggu kita yang sedang berjuang melawan kese-stress-an kemacetan.
Setelah berhasil masuk tol jagorawi dari pintu tol sentul, mulailah obrolan-obrolan ringan, sedang dan berat. Dimulai dari topik Brownies panggang yang aku bawa. Mas agus tadi sudah mencicipinya 2 potong. Katanya sih rasanya enak, entar karena dia lagi laper belum sarapan atau memang karena doyan. Mas igo dan mbak Ade belum mau mencicipi karena masih kenyang habis sarapan. Mbak maya juga demikian. Tapi bau coklat manis yang menggoda dari brownies yang aku bawa, ternyata mampu mengalahkan rasa kenyangnya mbak Maya. Akhirnya dia juga mencicipi. Komentarnya: "Enak juga Fon, tapi susah ditelan". OO.. ada yang salahkah dengan kue-ku? tenang, maksudnya mbak maya itu kue nya itu beku karena abis aku simpen di lemari es. Dan karena 80% kue brownies itu bahannya dari coklat, maka jika kue tersebut ditempatkan di suhu dingin, dengan sendirinya akan membeku. Tapi intinya, kue-ku cukup sukses. Yipiiii, terimakasih kepada juri-juri setiaku, ibu maya dan bapak agus. Oh iya, kata mbak ade, ibarat kompetisi nyanyi Indonesian Idol, mas agus adalah si Indra Lesmana. Dimana si Indra jikalau memberi penilaian agak lunak, tidak terlalu restrick, dan cenderung untuk memuji. Kalau mbak Maya, ibarat si Anang. Keras. Blak-blak-an, apa adanya, kritiknya pedas tapi membangun. Apapun dan siapapun juri kue-ku, jangan bosen yah.
Topik pembicaraan selanjutnya adalah mengenai rencana makan siang diluar. Sejak pulang dari haji, mbak ade kehilangan nafsu makannya. Selain kehilangan nafsu makannya, dia juga kehilangan berat badannya sekitar empat kilo. Loh, dia bukannya senang jadi langsingan, eh malah bingung gimana cara balikin nafsu makannya. oh mbak Ade, andai perut kita bisa dituker, aku mau mbak. Aku mau dituker dengan perut mbak ade yang lagi tidak nafsu makan itu, biar berat badanku turun. Biar celanaku muat lagi.
Makan siang nanti rencananya kita mau ngikutin mbak Ade, maunya makan apa dan dimana. Karena dia yang lebih berkepentingan dalam hal ini. Ternyata mbak ade maunya makanan jepang, shabu-shabu, sushi, dll. Mendengar kata sushi, aku jadi berfikir untuk tidak gak jadi nuker perutku. Sudah lama aku pengen makan sushie. Sejak terakhir kalinya aku makan sushi di ritzcalton, dan akhirnya ketagihan. Akhirnya, kita putuskan untuk makan di shabutei, di plaza semanggi. Horeyyyy.... aku gak sarapan ah, biar nanti bisa makan banyak. hehehehehehhe....Lupakan diet dulu deh.
Topik pembicaraan selanjutnya mengarah ke mas igo yang ternyata sudah terlelap. "Mas, mas.. abis 'ronda' yah???". Dia masih terlelap atau memang pura-pura gak denger. Tapi akhirnya dia bangun juga ketika ada bis besar yang mau nyerempet mobil yang kita tumpangi. Mas Agus, sebagai pengguna jalan yang baik, merasa dilecehkan oleh supir bis yang tak tahu diri. Nyerobot dari bahu jalan. Terpancing emosinya, mas agus langsung berniat untuk memotong jalan bis tadi itu, kemudian nge-rem mendadak didepannya. Hiiiiiii.....bayanginnya aja serem. Gimana kalau pas mas agus ngerem mendadak ternyata bis yang ada dibelakang gak bisa ngerem mendadak juga. Bukan hanya mobil yang penyok, kita juga ikutan penyok. Mas igo mencoba tenang dan ngingetin. "Gus, inget. Ini mobil orang gus". Mobil yang dibawa hari ini adalah mobilku memang. Maksud mas igo, kalau mobilnya mas agus sendiri gpp kalau mau ditabrak-tabrakin, atau di serempet-serempetin, terserah dia. Dua pria setengah waras ini klop banged. Kirain tadi mo nasehatin tentang keselamatan penumpang lainnya. Eh gak tahunya cuman mau ngingetin kalau ini mobilku. Jangan berpikir setelahnya mas agus jadi nyadar, dia malah tertantang untuk terus mengejar bis itu. Dan mas agus makin panas lagi, setelah dia menyaksikan bis itu sekali lagi dengan seenak udelnya motong jalan mobil lain. Kali ini mbak maya pun ikut terpancing emosinya. "udah mas, kejar aja. Jejerin mas. Aku siap buka jendela nih. Aku teriakan ntar. WOiiiii". Waduh, suasana bukannya makin dingin, tapi makin mendidih. Akhirnya, Ibu hajjah Ade turun tangan. "Mbak maya sepertinya sudah kelamaan di jalanan yah???". Weleh bu hajjah ini, bukannya ngasih dalil atau ceramah gitu biar pada tenang. Ya sudah, sepertinya aku musti nyiapin polis asuransi mobilku nih.
Di tengah serunya kejar-kejaran antara bis dengan xenia merah maroon, dari belakang tiba-tiba terdengar sirine pengawalan pejabat(jenderal bintang dua). Kita disuruh minggir dan memberi jalan untuk pejabat yang merasa penting itu lewat. Akhirnya kita pause dulu acara kejar-kejaran ala james bond itu. Setelah rombongan jenderal merasa penting itu lewat, mas agus mencoba untuk ikut dibelakang rombongan itu. maksudnya biar ikut dikawal juga, dan lumayan bisa ngindari macet. Sejenak mas agus melupakan misi berbahayanya. Baru saja mas agus mau masuk dibelakang iring-iringan, eh bis tadi nyelonong lagi. Yaaah... emang kurang ajar nih bis. Kali ini semua penghuni mobil jadi emosi. Terserah deh mas gus. Bantai aja tuh bis. Meskipun itu gak mungkin, dan kalaupun terjadi senggol-senggolan pastinya si xenia yang akan terpelanting. Tapi untunglah hal itu tidak sampai terjadi. Karena si bis dengan lincahnya meninggalkan kita, jauh dan semakin jauh tak terkejar. Redam juga akhirnya emosi jiwa.
kalau boleh mengutip novel laskar pelangi :
"Pesan Moral No.1" : Kalau ada supir bis gila, Secepatnyalah pasang aksi seperti james bond. Kejar sampai dapet. Habis itu teriakin sekenceng-kencengnya ala supir angkot.
Monday, January 5, 2009
Ayahku, Idolaku
Saya akan senantiasa mengecup kening, pipi dan ubun-ubun kepalanya di pagi, siang, dan malam hari. Sejak ia baru membuka matanya di waktu fajar hingga menjelang menutup mata. Bahkan saya bangunkan ia dengan beberapa kecupan hangat, agar senyum manisnya lah yang membuka paginya. Andai ia tahu, di setiap pertengahan malam saat ia terlelap dibuai mimpi pun akan selalu ada kecupan lembut menghangatinya. Saya lakukan itu agar sampai kapanpun ia takkan pernah lupa, ada sosok penuh cinta yang setiap tuturnya bermakna sayang, dan setiap dengusan nafasnya berarti kasih.
Saya akan menjadi apapun untuknya. Kadang menjadi harimau yang menerjang-nerjang dengan auman keras yang membuatnya berteriak, sesekali menjadi kodok yang melompat-lompat lucu, atau menjadi burung yang hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya. Pagi hari menjadi ayam ber-kukuruyuk membelah fajar dan malamnya menjadi bintang-bintang yang menemani tidurnya hingga malam berlalu. Saya tak akan bosan mendongeng untuknya kapan pun, dimana pun, kalau perlu sampai ia bosan. Walau pun saya tahu, sebanyak apapun cerita yang saya dongengkan, ia takkan pernah bosan. Baginya, sayalah pendongeng terhebat di dunia. Yang mampu membuatnya tertawa tergelak dan terkekeh, kadang membuatnya menjerit ketakutan, atau memaksanya mengeluarkan air mata.
Berangkat bersama fafar yang beranjak pergi, pulang dari kantor ditemani lampu jalan dan dinginnya malam. Pekerjaan apa pun rela saya tempuhi untuk sebuah keyakinan ia mendapatkan makanan yang baik, cukup dan halal, setidaknya untuk hari ini. Untuk sebuah harapan agar ia mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya. Inilah bentuk pengorbanan yang tak pernah saya meminta balasan apa pun darinya kelak. Bagi seorang Ayah, mendapati senyum si buah hati tetap menghiasi hari-harinya, itu sudah cukup.
Sahabat. Inilah kata yang selalu saya sebutkan kepadanya tentang siapa saya. Saya bukan sekadar Ayah baginya, melainkan sahabat. Saya akan menjadi sahabat terbaiknya, yang menyediakan hati sehamparan bumi dan telinga seluas lautan. Yang akan mendengarkan semua kesahnya dan menampung sebanyak apapun airmatanya. Yang akan bersedia menangis bersamanya saat ia sedih, dan tertawa bersamanya di hari-hari bahagianya. Yang akan senantiasa hadir untuknya kapan pun, dimanapun ia membutuhkan. Dada ini setegar karang di laut yang siap menjadi tambatan kepalanya, dengan segunung persoalan yang dihadapinya.
Dalam setiap sujud dan tengadah jemari, namanya tak pernah alpa terucap. Sepanjang doa yang terlantun, tak pernah sekalipun namanya terlupa. Kepada Allah senantiasa terpinta agar seribu malaikat membimbing setiap jengkal langkahnya, agar sejuta cahaya tak pernah padam menerangi jalannya, dan tak terbilang tangan menjaganya dari jalan yang menyimpang. Tak jarang, airmata ini menetes tak tertahan memandang wajah polosnya, berharap tak banyak dosa yang mengotori perjalanan hidupnya, meminta tak banyak aral melintangi langkah kecilnya, dan tak tersebar onak yang akan menghambat jalannya. Kebahagiaannya, adalah kata kunci dalam setiap pinta saya kepada Allah.
Saya sadar betul, tak patut berharap ia akan membalas cinta seperti yang saya curahkan kepadanya. Apalah lagi menakar-nakar agar ia tahu betapa tak terhitung kasih yang saya berikan kepadanya. Pun tak mungkin saya menuntutnya untuk mengganti semua peluh yang bercucuran untuknya. Tak sedikit pun saya meminta bayaran untuk setiap airmata yang luruh sepanjang hidupnya semenjak kecil. Bukan karena saya tahu ia takkan pernah sanggup membayarnya, tapi sekadar ia tahu bahwa cinta ini begitu tulus, jujur, bersih namun sederhana. Tak ada yang sanggup menggantinya, berapapun yang ditawarkannya.
Sungguh, saya melakukan ini semua demi satu harapan. Kelak sampai kapan pun ia tak perlu mencari figur lain yang ia banggakan, tak sulit untuk menyebut sosok yang ia dambakan kehadirannya, yang ia tangisi kepergiannya. Karena, sampai kapan pun ia akan berkata kepada dunia, “Ayahku, Idolaku”.
Coretan kecil untuk anak-anak Abi
Jama' atau Shalat
Assalamu'alaikum wr wb
Ustadz, saya seorang karyawan yang bekerja di Jakarta dan rumah di Cibinong. Setiap hari pulang kerja dan menaiki bus melewati jalan tol dari Jakarta pukul 17.30 dan tiba di Cibinong pukul 20.00. Jika saya solat maghrib di Jakarta, maka tidak dapat bus dari terminal terdekat dan harus ke terminal yang lebih jauh, sehingga kemungkinan saya pulang jam 22.00.
Karena itulah, maka sholat maghrib saya Jama' dengan Isya, hampir setiap hari dari Senin sampai Jumat, terkadang sholat di bus dengan tayamum. Bagaimana hukumnya? Apakah saya harus jama' atau sholat dalam bus?
Jazakumullohu khairan katsira.
Dede
Waalaikumussalam Wr Wb
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amir dari ayahnya berkata,”Aku menyaksikan Nabi saw mengerjakan shalat diatas kendaraannya dengan mengahadap ke arah kemana kendaraannya mengarah.” (HR. Bukhori Muslim)
Didalam hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw melakukan shalat sunnah sedangkan dia saw berada diatas kendaraannya dan tidak menghadap ke arah kiblat.” (HR. Bukhori)
Imam Nawawi mengatakan bahwa boleh mengerjakan shalat sunnah diatas kendaraan pada saat safar menghadap kearah kendaraannya mengarah, ini boleh menurut ijma para ulama dengan syarat safar yang dilakukannya bukanlah untuk maksiat. Karena didalam safar maksiat tidak dibolehkan rukhshoh (keringanan) sedikit pun, seperti orang yang bersafar untuk merampok, membunuh orang lain, durhaka kepada orang tuanya, seorang budak yang lari dari tuannya atau durhaka terhadap suami, namun (di berikan rukhshoh) untuk bertayammum.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz V hal 294 – 295)
Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah berkata,”Aku menyaksikan Rasulullah saw mengerjakan shalat diatas kendaraannya dengan menggerakkan kepalanya menghadap ke arah kendaraannya mengarah namun beliau saw tidaklah melakukan hal yang sama pada shalat wajib.” (Muttafaq Alaih).
Al Alamah al Azhim Abadi mengatakan bahwa yang ada diriwayat ini kemungkinan dalam keadaan tidak terpaksa (darurat) menurut syariah. Adapun apabila dalam keadaan terpaksa menurut syariah maka diperbolehkan mengerjakan shalat wajib diatas kendaraan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad didalam musnadnya, Daruquthni, Tirmidzi dan Nasa’i dari Ya’la bin Murroh bahwasanya Nabi saw dan para sahabatnya tiba di daerah Madhiq sedangkan beliau masih berada diatas kendaraannya, langit berada diatasnya sementara tanah becek dibawahnya kemudian tiba waktu shalat maka beliau saw memerintahkan muadzin untuk adzan dan iqomat. Lalu Rasulullah saw yang berada diatas kendaraannya maju ke depan dan mengimami sholat mereka dengan isyarat (gerakan) dan menjadikan sujudnya lebih rendah daripadai ruku’nya.”
Imam Tirmidzi mengatakan ini adalah hadits gharib yang hanya diriwayatkan oleh Amr bin Maimun bin ar Rumaah al Balakhi yang tidak dikenal kecuali dari haditsnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh lebih dari satu orang ulama.
Ibnu Taimiyah didalam kitab “Syarhul Ahkam” mengatakan bahwa hadits ini telah dinyatakan shahih oleh Abdul Haq, hasan menurut Nawawi, lemah menurut Baihaqi. Hadits ini persis seperti pendapat sebagian ulama Syafi’i tentang sahnya shalat wajib diatas kendaraan sebagaimana sahnya shalat diatas kapal laut, yang merupakan ijma ulama. Imam Syafi’i menyatakan sah shalat wajib diatas kendaraan dengan beberapa persyaratan.
Sementara itu Imam Nawawi didalam “Syarh” nya dan Al Hafizh didalam “Fath” nya menyatakan bahwa ijma adalah tidak boleh meninggalkan kiblat didalam shalat wajib.” Namun Al Hafizh memberikan rukhshoh (keringanan) ketika dalam keadaan sangat takut. Nawawi mengatakan bahwa ijma tidak dibolehkannya shalat wajib diatas kendaraan.
Dia menambahkan,”Jika dimungkinkan maka ia mengarahkannya ke arah kiblat, berdiri, ruku’, sujud diatas kendaraannya yang berhenti maka boleh baginya shalat wajib namun apabila kendaraan itu sedang berjalan maka tidak sah shalat fardhunya, ini adalah pendapat yang berasal dari Syafi’i, ada yang menyebutkan bahwa shalat wajibnya sah sebagaimana shalat diatas perahu menurut ijma.
Seseorang yang berada di atas kendaraan kemudian dia khawatir seandainya turun untuk melaksanakan shalat wajib dia akan tertinggal oleh rombongannya dan bahaya mengancamnya maka para ulama Syafi’i mengatakan,”Dia boleh shalat wajib diatas kendaraan sesuai kemampuannya dan hendaklah dia mengulanginya lagi dikarenakan sebelumnya dia mendapatkan halangan.” (Aunul Ma’bud juz III hal 70 - 71)
Berdasarkan hadits Ya’la bin Murroh diatas, Abu ath Thoyyib al Madaniy al Hanafi didalam “Syarhut Tirmidzi” mengatakan bahwa beliau saw mengimami shalat itu. Dilihat dari lahiriyahnya bahwa shalat itu adalah shalat wajib karena yang difahami dari shalat berjama’ah adalah shalat wajib. Bukti lainnya terhadap hal itu adalah adzan karena didalam shalat sunnah tidak disyariatkan baginya adzan. Maka hadits ini menunjukkan bolehnya mengerjakan shalat wajib diatas kendaraan apabila ada halangan, demikian pula pendapat para ulama kami (madzhab Hanafi).
Al Qodhi Abu Bakar bin al Arabi didalam “Al Aridhah” mengatakan,”Hadits Ya’la ini lemah sanadnya namun shahih maknanya.” Dia mengatakan,”Shalat dengan isyarat diatas kendaraan sah apabila orang itu khawatir akan terlewat waktunya dan tidak mungkin turun dikarenakan mepetnya waktu atau dikarenakan jalanannya basah (becek).” (Tuhfatul Ahwadzi juz I hal 448)
Hadits-hadits diatas merupakan dalil dibolehkannya shalat sunnah pada saat safar sedangkan pada saat tidak safar maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, sebagaimana disebutkan Asy Syaukani.
Abu Yusuf, Abu Sa’id al Isthakhari salah seorang ulama Syafi’i serta Ahli Zhahir membolehkannya. Ibnu Hazm mengatakan,”Kami telah meriwayatkan dari Waki’i dari Sufyan dari Manshur bin al Mu’tamar dari Ibrahim an Nakh’i berkata,’Mereka pernah shalat diatas kendaraan dan menghadap kearah kendaraan mereka mengarah.” Dia berkata,’dan ini adalah kisah tentang para sahabat dan tabi’in secara umum baik dalam keadaan safar maupun tidak.” Imam Nawawi mengatakan bahwa itu adalah kisah dari Anas bin Malik.
al Iraqi megatakan bahwa orang yang berpendapat seperti itu—membolehkan shalat diatas kendaraan pada saat tidak safar—berdalil dengan keumuman hadits ini yang tidak secara tegas menyebutkan kata safar.
Selanjtunya dia juga menambahkan bahwa zhahir hadits-hadits yang dikhususkan oleh safar tidaklah membedakan antara safar yang jauh atau dekat, demikian pendapat Syafi’i dan jumhur ulama. Imam Malik berpendapat bahwa tidak dibolehkan kecuali pada safar yang dibolehkan didalamnya qashar (memotong) shalat , ini juga diceritakan dari Syafi’i namun ini aneh, ini juga pendapat Imam Yahya. (Nailul Authar juz II hal 144)
Berdasarkan berbagai dalil dan pendapat para ulama diatas, maka saran saya kepada saudara dede yang hampir setiap hari melintasi jalur tol Jakarta – Cibinong dengan kendaraan umum dan mendapatkan waktu maghribnya habis diatasnya adalah :
1. Hendaklah anda sudah berwudhu sebelum menaiki kendaraan umum dan berupaya untuk menjaganya hingga datang waktu maghrib. Sebisa mungkin hindari tayammum sekalipun hal itu dibolehkan ketika wudhu anda batal.
2. Dikarenakan adanya kesulitan mendapatkan kendaraan jika anda mengerjakan shalat di Jakarta serta tidak mungkinnya anda turun darinya ketika datang waktu maghrib maka dibolehkan bagi anda untuk shalat maghrib di bus tanpa di-jama’ (digabungkan) dengan shalat isya. Hal ini dikarenakan anda masih akan mendapatkan waktu isya setibanya di rumah.
3. Sesampainya di rumah, apabila anda masih mendapatkan waktu maghrib maka hendaklah anda mengulangi shalat maghrib tanpa shalat isya dikarenakan waktu isya belum tiba. Namun jika waktu isya sudah tiba maka anda pun harus mengulang shalat maghrib sebelum menunaikan shalat isya. Hal itu dikarenakan shalat maghrib sebelumnya yang anda lakukan diatas kendaraan itu dikerjakan tidak sempurna, baik saat ruku’, sujud ataupun tidak menghadap kearah kiblat.
Wallahu A’lam
Liburan Anak KaMPung
aku dan keluarga berencana mengisi liburan ini ke kampung uyut di Sumedang..(ternyata aq orang kampung juga hi..hi...), kami sekeluarga berangkat tgl 25 Desember 2008, rencananya sich sehabis subuh kami meluncur..tapi...putri bungsuku blom bangun, sepertinya masih menikmati mimpi indahnya...
Pas jam 7 pagi kami meninggalkan rumah cibinong menuju sumedang, perjalanan yang kami lewati sangat lancar..saat melewati Tol jagorawi - Cikunir - Cipularang benar2 tanpa hambatan..sampai di pintu keluar tol cileunyi kami istirahat sebentar sambil menikmati teh panas yang ada di rest area.
Tiba di kota Sumedang jam 10 pagi, kami pun langsung menuju rumah makan tahu Sumedang langganan kami, tahu yang dikenal dengan nama " Tahu Bongkeng " ini memang sangat banyak peminatnya, selain kulit tahunya yang renyah serta isinya yang gurih di label rumah makan itupun tercantum kalimat " Tanpa Formalin", sehingga rasa aman telah tercermin dihati para pelanggannya dan itu memberikan image nilai jual yang lebih baik dibanding tahu2 lainnya.
Meskipun aq sendiri ga tahu apakah "tahu bongkeng" itu benar2 tanpa formalin atau ?????.
Setelah menikmati beberapa buah tahu bongkeng, tak lupa aq memesan buat dibungkuskan, biasanya aq ini orang yang ga doyan tahu lho..tapi kalo tahu sumedang hmmmm...hmmmm senennggg banged.
Rasanya itu lho..bedaaaa..baget ma tahu2 yang lain ..(bukan promosi lho hanya sekedar mengkampanyekan, kalo ga percaya datang aja deh...)
Xeniapun meluncur lagi dengan kecepatan aga lambat, karena anakku ingin melihat dari dekat keindahan pemandangan alam kota tahu ini...bagaikan turis lokal dan aq pun sang pemandu wisata tuk perjalanan wisata ini, tak henti hentinya dia berceloteh riang menunjuk semua hal yang dia belum pernah lihat sebelumnya...mulai pertanyaan seputar mengapa padi ditanam disawah, mengapa pak tani yang sedang mencangkul itu sudah tua?, sampai pertanyaan ada apa didalam gunung yang tinggi itu ? dan semua pertanyaan2 itu tak bosan2nya kujawab dengan gaya bahasa yang dapat dimengerti oleh dunia anak...(aq khan ibu yang bijak..)
Tak terasa sudah sampailah kami di rumah kediaman uyut, kamipun disambut dengan penuh sukacita..maklumlah, aq ini terbilang dianggap cucu yang paling sukses diantara keluargaku...ha..ha...walaupun sebenernya hanya pas-pas an saja...
Semua keluarga dan kerabat menyambut kedatangan kami, yang memang telah kami beritakan sebelumnya....ku lihat kakekku yang sudah stroke duduk di kursi rodanya, kamipun menghampiri beliau dan bersungkem-sungkeman...sedangkan nenekku muncul dari dapur dengan begitu heboh..melihat buyut2nya (kedua anakku)..inilah momen2 yang selalu aq rindukan, dari aku kecil dulu..aku selalu dijemput oleh nenek dan kakekku untuk berlibur di kampung....dan sepertinya ritual ini akan aq wariskan ke generasiku...
Anakku yang sulung sangat senang sekali bertemu dengan sepupu, paman dan tante2nya...yang kebetuhan usianya tidak terlampau jauh..karena adik2 sepupuku itu paling besar kelas 3 sma, jadi anakku bisa diajak main dan diawasi oleh mereka...
Mulai dari bangun pagi, anakku sudah minta jalan2, sambil beli kue serabi khas kampungku..kebetulan si penjual serabi ini aga jauh lokasinya dari rumah uyut, sehingga kita bisa sambil berolahraga pagi, dan berjalan disepanjang pematang sawah yang baru mulai ditanami padi. Anakku berjalan dengan riangnya sambil meminta ijin kalo nanti siang dia akan mencari belut, dan bermain di sawah...ku kabulkan keinginanny, toh tidak setahun sekali dia bisa main di sawah.
Dan ternyata memang benar, dari dalam rumah aku mendengar tawa tawa kecil anakku dan saudara2nya..sedang apa gerangan ? tanyaku dalam hati...rasa ingin tahu menyelimuti hatiku. Aku segera keluar rumah dan kulihat anakku yang ganteng itu sedang berendam di air selokan dekat sawah dibelakang rumah....haaaa....????? apa yang terjadi ??? sedikit terbelalak mataku melihat pemandangan itu..tapi kuurungkan niat tuk berteriak memanggil anakku....yaaa biar sajalah dia menikmatinya...aq dulu juga begitu....hi..hi...
Aku hanya tersenyummm melihat tingkah anakku sambil berkata nanti kalo sudah selesai cari belutnya, kk mandi ya...
Dan begitulah hari2 berikutnya, anakku selalu minta bermain disawah..kadang mencari belut..kadang makan2 disaung...kadang bakar2 jagung di sawah...pokoknya saat liburan ini dia bebas bermain apa saja sesuka hatinya di kampung...
Biarlah dia mempunyai kesan yang indah dan tak terlupakan kalau pulang kampung...dan selalu merasa rindu akan kampung sampai dia besar nanti....