
Kamaren malam (tanggal 24 Desember 2008), setelah membeli obat untuk Kiki di apotik Mitra Farma Bogor, kami berdua terjebek kemacetan panjang di jalan raya bogor tepatnya di seputar pertigaan Talang. Saat itu, aku melihat jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Selintas aku teringat temanku Ade yang baru saja pulang dari ibadah haji dan kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini. Kami sdh berniat untuk silaturahmi ke rumahnya, namun belum kesampaian juga. Lalu kuambil ponselku dan aku menelponnya untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak. Alhamdulillah, ternyata Ade dan keluarganya sedang ada di rumah, namun sedang keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Akupun langsung membelokkan kendaraanku ke arah perumahan Vila Bogor Indah, kediaman Ade dan keluarga. Saat akau sampai di rumahnya, ternyata sang tuan rumah belum sampai. Aku menunggu di mobil bersama Kiki sambil mendengarkan music dari Gen FM. Setelah sekitar 10 menit menunggu di depan rumah, terlihat mobil Kijang biru datang dan aku lihat Mas Bani, suaminya, Ade dan puteri kesayangan mereka Fatimah. Lalu kami dipersilahkan masuk. Namun karena Kiki sudah tidur pulas, akhirnya aku sendiri yang masuk.
Sebelum masuk ke rumah aku mengucapkan salam “Assalamu’alikum…” di jawab oleh mas Bani “Wa’alikum salam” dengan suara yang serak2 berat. Sepertinya sedang terkena batuk. Biasanya orang sepulang haji memang terkena batuk seperti ini, masyarakat kita biasa menyebutnya batuk unta dan konon katanya obatnya adalah OBH (obat batuk haji) he..he… aya-aya wae!. Ade sang istripun tidak luput dari batuk dari negeri arab ini. Lalu Saya dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Di meja ruang tamu aku melihat kurma, kacang arab, makanan kecil2 kuning (aku tdk tahu namanya) dan sesuatu yang sangat aku rindukan yakni air zam-zam. Rasanya belum afdol jika kita belum minum air terbaik (jika tidak boleh dibilang mukjizat) di seluruh jagat ini. Adepun menuangkan 1 cangkir besar untukku.
Satu lagi pemandangan yang tidak lazim aku lihat di meja tamu malam itu adalah sebuah laptop yang sudah aktif di sudut meja tepat di depan posisi mas Bani duduk. Laptop dengan screen saver gambar jamaah dari seluruh penjuru dunia sedang melakukan thawaf. Aku menduga mas Bani akan bercerita dan menunjukkan oleh-oleh hajinya dengan power point dan bantuan video visual. “Wah…kayak acara Bukan Empat Mata di Trans TV aja”. Kataku dalam hati. Pokoke, two-thumbs up! Mantep abis! Buat mas Bani. Rasanya kau sdh tidak sabar lagi medengar cerita seru atau bisa dibilang pengalaman spiritual mereka dari tanah haram itu.
Akupun langsung tunjep point (istilah srimulat) melemparkan pertanyaan ke Mas Bani. “ Gimana Mas pengalamn disana?” Lalu Mas Bani mengawali ceritanya dengan menunjukkan persiapan mereka mulai di pemondokan haji, perjalanan ke bandara, dan foto-foto istrinya yang berpose dengan senyum manisnya itu saat masih berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Setelah itu slide berikutnya aku melihat mereka ketika sudah sampai di Madinatul Munawwarah. Saat di Madinah itu mereka berada di penginapan yang sangat memadai fasilitasnya layaknya hotel berbintang meskipun satu kamar harus diisi oleh tujuh orang jamaah. Katanya jarak dari hotel ke masjid Nabawi hanya sekitar 150 meter sehingga merekapun dapat beribadah atau sholat berjamah sampai setidaknya 40 kali terus menerus atau biasa disebut shalat arba’in. Namun menurutnya kondisi itu sangat berbeda sekali dengan di Makkah yang jarak pemondokannya dengan masjidil haram sekitar 8 kilometer. Untunglah temanku ini masih muda-muda sehingga secara fisik mampu menempuh jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki di tengah terik matahari yang menyengat dengan suhu udaranya pasti jauh di atas suhu rata2 di Indonesia. Ade sempat pingsan juga sehabis sholat dari masjidil haram , menurutnya mungkin dia tidak akan kuat jika tidak membaca tasbih terus menerus. Subhanallah…. Perjuangan yang berat kawan. Jika tidak karena kecintaanmu dan keikhlasan ibadahmu kepada Allah semata, pasti tidak akan kamu lakukan ini semua. Semoga Alloh SWT menerima semua ibadahmu sekeluarga. *Saat menulis ini aku meneteskan air mata, saya haru sekali*.
Cerita menarik lainnya adalah tentang perbedaan faham diantara jama’ah haji. Mas Bani cerita, di sanalah sebenarnya gambaran kecil nanti ketika kita di akhirat, bahwa kita kan terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Ada jama’ah yang sibuk menghitung-hitung berapa kali mereka sdh thawaf dalam sehari, berapa kali mereka keluar masuk miqot untuk umrah, dan masih banyak lagi ibadah2 yang hanya dihitung kuantitasnya dengan harapan semakin banyak melakukan itu semakin banyak pula pahala yang akan dia dapatkan dengan menggunakan hitungan matematika saat dia duduk dibangku sekolah dan sayangnya tidak sedikit jamaah haji Indonesia yang melakukan hal itu. Padahal itu semua belum tentu ada dasarnya atau ada dalil yang menganjurkan hal tersebut, Masya Allah. Oleh karena itulah mas Bani dan Ade menyarankan perlunya bekal ilmu yang memadai sesuai tuntunan Qur’an dan Sunah Nabi yang sahih sehingga kita tidak terombang-ambing oleh perbedaan pengamalan dan mampu mandiri saat beribadah di sana dan tidak terjebak kepada perbuatan yang bid’ah. Menurut mas Haji Bani esensi ibadah haji adalah mengajarkan ketauhidan kita kepada Allah melalui seruan dan milah Ibrahim.
Pesan mas Haji bani dan bu Hajjah Ade kepada saya dan teman-teman yang lain adalah segeralah menjalankan ibadah haji selagi masih muda, sehat, dan masih diberi kesempatan. Karena jika kita sdh mampu dan kita belum juga menjalankan sampai nyawa kita diambil oleh sang khalik, maka kita tinggal memilih akan menjadi majusi atau nasrani. Astaghfirullah (merinding saya mendengarkan kutipan hadits shahih tersebut). Dengan mengeluarkan uang 33 juta untuk ONH adalah bukan apa2 dibanding kenikmatan ibadah di sana karena di sanalah kita akan menyadari betapa keagungan Allah nampak di depan mata dan akan menimbulkan kesadaran kehambaan kita sehingga kita dapat khusu’ dan nikmat beribadah. Ibadah kita selama ini ternyata belum (jika tidak bisa dibilang masih sangat jauh) jika dibandingkan dengan perjuangan para rasul dan sahabat-sahabatnya. “Kita di sana hanya kecil sekali mas, hanya segini” sambil memegang jari manisnya untuk menunjukkan kita bukan siapa-siapa dan sangat tidak layak untuk menyombongkan diri di depan dunia ini. Sambil memegang tembok, melihat sekelilingnya , mas Bani berkata “….ini semua adalah fana Mas Agus”, saya pun menganggukkan kepala tanda setuju.
Saking asyiknya mengdengarkan pengalaman spiritual atau bahasa jawanya testimony haji ini tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, dan tampak si kecil Fatimah juga sudah mengantuk. Sebelum bersalaman mau pulang, bu Hajjah memberiku kantong plastic hitam berisi oleh2 dan cindera mata. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan berdo’a semoga mereka menjadi haji yang mabrur. Amiin ya Rabbal ‘Aalamiin. Siapa yang menyusul berikutnya?
Sebelum masuk ke rumah aku mengucapkan salam “Assalamu’alikum…” di jawab oleh mas Bani “Wa’alikum salam” dengan suara yang serak2 berat. Sepertinya sedang terkena batuk. Biasanya orang sepulang haji memang terkena batuk seperti ini, masyarakat kita biasa menyebutnya batuk unta dan konon katanya obatnya adalah OBH (obat batuk haji) he..he… aya-aya wae!. Ade sang istripun tidak luput dari batuk dari negeri arab ini. Lalu Saya dipersilahkan duduk oleh tuan rumah. Di meja ruang tamu aku melihat kurma, kacang arab, makanan kecil2 kuning (aku tdk tahu namanya) dan sesuatu yang sangat aku rindukan yakni air zam-zam. Rasanya belum afdol jika kita belum minum air terbaik (jika tidak boleh dibilang mukjizat) di seluruh jagat ini. Adepun menuangkan 1 cangkir besar untukku.
Satu lagi pemandangan yang tidak lazim aku lihat di meja tamu malam itu adalah sebuah laptop yang sudah aktif di sudut meja tepat di depan posisi mas Bani duduk. Laptop dengan screen saver gambar jamaah dari seluruh penjuru dunia sedang melakukan thawaf. Aku menduga mas Bani akan bercerita dan menunjukkan oleh-oleh hajinya dengan power point dan bantuan video visual. “Wah…kayak acara Bukan Empat Mata di Trans TV aja”. Kataku dalam hati. Pokoke, two-thumbs up! Mantep abis! Buat mas Bani. Rasanya kau sdh tidak sabar lagi medengar cerita seru atau bisa dibilang pengalaman spiritual mereka dari tanah haram itu.
Akupun langsung tunjep point (istilah srimulat) melemparkan pertanyaan ke Mas Bani. “ Gimana Mas pengalamn disana?” Lalu Mas Bani mengawali ceritanya dengan menunjukkan persiapan mereka mulai di pemondokan haji, perjalanan ke bandara, dan foto-foto istrinya yang berpose dengan senyum manisnya itu saat masih berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Setelah itu slide berikutnya aku melihat mereka ketika sudah sampai di Madinatul Munawwarah. Saat di Madinah itu mereka berada di penginapan yang sangat memadai fasilitasnya layaknya hotel berbintang meskipun satu kamar harus diisi oleh tujuh orang jamaah. Katanya jarak dari hotel ke masjid Nabawi hanya sekitar 150 meter sehingga merekapun dapat beribadah atau sholat berjamah sampai setidaknya 40 kali terus menerus atau biasa disebut shalat arba’in. Namun menurutnya kondisi itu sangat berbeda sekali dengan di Makkah yang jarak pemondokannya dengan masjidil haram sekitar 8 kilometer. Untunglah temanku ini masih muda-muda sehingga secara fisik mampu menempuh jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki di tengah terik matahari yang menyengat dengan suhu udaranya pasti jauh di atas suhu rata2 di Indonesia. Ade sempat pingsan juga sehabis sholat dari masjidil haram , menurutnya mungkin dia tidak akan kuat jika tidak membaca tasbih terus menerus. Subhanallah…. Perjuangan yang berat kawan. Jika tidak karena kecintaanmu dan keikhlasan ibadahmu kepada Allah semata, pasti tidak akan kamu lakukan ini semua. Semoga Alloh SWT menerima semua ibadahmu sekeluarga. *Saat menulis ini aku meneteskan air mata, saya haru sekali*.
Cerita menarik lainnya adalah tentang perbedaan faham diantara jama’ah haji. Mas Bani cerita, di sanalah sebenarnya gambaran kecil nanti ketika kita di akhirat, bahwa kita kan terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Ada jama’ah yang sibuk menghitung-hitung berapa kali mereka sdh thawaf dalam sehari, berapa kali mereka keluar masuk miqot untuk umrah, dan masih banyak lagi ibadah2 yang hanya dihitung kuantitasnya dengan harapan semakin banyak melakukan itu semakin banyak pula pahala yang akan dia dapatkan dengan menggunakan hitungan matematika saat dia duduk dibangku sekolah dan sayangnya tidak sedikit jamaah haji Indonesia yang melakukan hal itu. Padahal itu semua belum tentu ada dasarnya atau ada dalil yang menganjurkan hal tersebut, Masya Allah. Oleh karena itulah mas Bani dan Ade menyarankan perlunya bekal ilmu yang memadai sesuai tuntunan Qur’an dan Sunah Nabi yang sahih sehingga kita tidak terombang-ambing oleh perbedaan pengamalan dan mampu mandiri saat beribadah di sana dan tidak terjebak kepada perbuatan yang bid’ah. Menurut mas Haji Bani esensi ibadah haji adalah mengajarkan ketauhidan kita kepada Allah melalui seruan dan milah Ibrahim.
Pesan mas Haji bani dan bu Hajjah Ade kepada saya dan teman-teman yang lain adalah segeralah menjalankan ibadah haji selagi masih muda, sehat, dan masih diberi kesempatan. Karena jika kita sdh mampu dan kita belum juga menjalankan sampai nyawa kita diambil oleh sang khalik, maka kita tinggal memilih akan menjadi majusi atau nasrani. Astaghfirullah (merinding saya mendengarkan kutipan hadits shahih tersebut). Dengan mengeluarkan uang 33 juta untuk ONH adalah bukan apa2 dibanding kenikmatan ibadah di sana karena di sanalah kita akan menyadari betapa keagungan Allah nampak di depan mata dan akan menimbulkan kesadaran kehambaan kita sehingga kita dapat khusu’ dan nikmat beribadah. Ibadah kita selama ini ternyata belum (jika tidak bisa dibilang masih sangat jauh) jika dibandingkan dengan perjuangan para rasul dan sahabat-sahabatnya. “Kita di sana hanya kecil sekali mas, hanya segini” sambil memegang jari manisnya untuk menunjukkan kita bukan siapa-siapa dan sangat tidak layak untuk menyombongkan diri di depan dunia ini. Sambil memegang tembok, melihat sekelilingnya , mas Bani berkata “….ini semua adalah fana Mas Agus”, saya pun menganggukkan kepala tanda setuju.
Saking asyiknya mengdengarkan pengalaman spiritual atau bahasa jawanya testimony haji ini tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, dan tampak si kecil Fatimah juga sudah mengantuk. Sebelum bersalaman mau pulang, bu Hajjah memberiku kantong plastic hitam berisi oleh2 dan cindera mata. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan berdo’a semoga mereka menjadi haji yang mabrur. Amiin ya Rabbal ‘Aalamiin. Siapa yang menyusul berikutnya?
No comments:
Post a Comment